Latest Post


canindonesia.com -  (Lhoksukon)
Sekolah Dasar Islam Terpadu ( SDIT) Madani Aceh Utara, Sabtu (11/3/2107) mengadakan study tour ke Blang Kulam Aceh Utara.  Blang Kulam adalah satu tempat wisata Aceh Utara yang mulai terdengar lagi setelah ditutup hampir 8 tahun lamanya, sejak  2009 lalu oleh bupati Ilyas A Hamid.

Study tour ini dilaksanakan dalam rangka memenuhi serangkaian mata pelajaran di sekolah SDIT Madani Lhoksukon dengan tema pembelajaran mengenal dan mengetahui lokasi - lokasi wisata di daerah. Menurut panitia pelaksana kegiatan, Melisa.S.Pd  kepada media ini,  kegiatan ini rutin dilaksanakan untuk anak - anak kelas IV V dan VI. Selain untuk mengenal tempat wisata siswa Juga diharapkan bisa bekerjasama dalam tim. "Dari 28 siswa yang ikut dan didampingi oleh 8 guru dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok-kelompok tersebut diberikan tugas untuk dikerjakan bersama, antara lain, mengenal tumbuhan, menulis ekosistem dan menulis tentang keindahan alam" kata Melisa menjelaskan. 

Selain itu dalam sambutannya,  kepala sekolah SDIT Madani Lhoksukon Zulkarnen,S.Pdi menyampaikan agar anak anak dalam mengikuti kegiatan dengan serius dan fokus dan membina kekompakan tim dengan baik dan harus ada ilmu yg di ambil dari kegiatan ini. Zulkarnen juga menyampaikan terimakasih kepada wali murid dan dewan guru yang telah berpartisipasi dalam menyukseskan kegiatan ini. 

 Zulkarnen yang juga pemerhati pariwisata daerah menyampaikan kepada pihak pemerintah Aceh utara agar wisata Blang Kulam ini hendaknya dihidupkan kembali dan dikelola dengan baik, karena tempat ini  merupakan aset daerah yang menjanjikan dan mengharapkan agar perda wisata halal segera diterbitkan oleh pemerintah Aceh Utara (acut)


canindonesia.com - (Banda Aceh)
Pengusaha Aceh Besar menyatakan optimis, calon Bupati Aceh Besar, Saifuddin Yahya  atau akrab dipanggil  Pakcek menang dalam pilkada Aceh Besar pada 2017. Kemenangan ini akan memberi angin segar bagi kondusifitas bisnis di Aceh Besar. Pernyatan ini disampaikan  seorang pengusaha Teuku Raja Muda, pemuda  asal Lamtui kecamatan kuta Cot Glie Aceh Besar ini saat dijumpai di kawasan Banda Aceh hari ini Rabu (8/2/2017).

Teuku Raja Muda, atau lebih dikenal  dengan panggilan Raja, mengatakan bahwa saat ini kalangan pebisnis khususnya yang bergerak di bidang konstruksi  menaruh harapan agar proses pilkada berjalan dengan baik. Sebab, menurutnya, jika pilkada berjalan dengan baik, maka masyarakat bisa dengan jernih memilih kandidat yang mereka anggap akan mampu mengubah nasib mereka di kemudian hari.

“Aceh Besar adalah wilayah teritorial yang luas dengan sebaran zona ekonomi yang beragam. Jika pemimpinnya mampu menyatukan Aceh Besar ini maka ekonomi sosial akan juga membaik. Itu dimulai dari proses pilkada yang baik juga” kata Raja optimis.

“Pakcek telah menyatakan komitmen dalam kampanyenya untuk berpihak kepada rakyat. Sebagai mantan kombatan dirinya memiliki komitmen agar Aceh Besar ini menjadi milik bersama seluruh masyarakat. Dan saat ini saya berharap rekan-rekan pengusaha Aceh Besar akan mendukung  Pakcek untuk kemenangan ini”. Lanjutnya.

Menurut Raja, Pilkada di Aceh Besar akan sangat menarik karena diikuti oleh hanya dua pasangan calon saja. Masyarakat akan sangat mudah menilai bagaimana performa Pakcek yang dekat dengan semua kalangan.

Disebutkan, Pakcek akan berpasangan dengan Juanda Djamal. Sedangan satu pasangan calon lainnya adalah Mawardi Ali dan tengku Husaini (waled). Dua pasangan ini mengklaim telah mendapatkan dukungan masyarakat secara luas.

Pilkada Aceh Besar akan dilaksanakan serentak dengan 20 kabupaten kota lainnya di propinsi Aceh. Pelaksanaan pilkada pada tanggal 15 Februari 2017 akan sangat menentukan masa depan propinsi ujung barat sumatera ini. Aceh Besar sebagai Kabupaten yang langsung bersisian dengan ibukota propinsi Banda Aceh memiliki arti penting bagi pembangunan nasional. (NH)





canindonesia.com  (Opini)
Tema integrasi agama dan politik atau agama dan negara dewasa ini bukanlah hal baru. Banyak diskusi dan tulisan yang mengupas tentang tema ini. Dua hal yang selama ini bagi sebagian orang adalah sesuatu yang mustahil disandingkan secara bersama-sama apalagi saling melengkapi dalam sebuah tatanan sistem kehidupan dan pemerintahan. Agama yang dimaksud dalam tulisan ini adalah Islam. Karena Islam sebagai agama yang hadir membawa konsep komprehensif dan paripurna yang mencakup seluruh aspek kehidupan.
            Pemikiran dan usaha mengintegrasikan agama dengan politik cukup kuat muncul ditengah masyarakat. Kesadaran beragama di kalangan intelektual muslim menjadi pendorong utama munculnya gagasan ini. Namun demikian tak jarang muncul diskusi publik yang tidak konstruktif dan cenderung tidak sehat ketika membahas agama dan politik. Bagi mereka agama dan politik adalah dua hal yang berbeda yang tidak mungkin disatukan. Agama dianggap terlalu suci untuk mencampuri urusan politik dan negara. Tembok-tembok ritual menjadi pembatas gerak dan aktivitas agama. Mereka meletakkan agama di satu sisi serta politik dan negara di sisi yang lain.
            Seorang inteletual dan pemikir muslim yang berasal dari Mesir yaitu Syeikh Hasan Al Banna dalam kitab yang ditulisnya Majmu’atur Rasail mendefenisikan kata islam dengan sangat utuh dan komprehensif. “Islam adalah negara dan tanah air, pemerintahan dan umat, ia adalah akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, ia adalah wawasan dan perundang-undangan, ilmu pengetahuan dan peradilan, ia adalah materi dan kekayaan, kerja dan penghasilan, ia adalah jihad dan dakwah, tentara dan fikrah, sebagaimana ia adalah akidah yang bersih dan ibadah yang benar.
            Sebagai seorang pendiri pergerakkan islam terbesar di dunia (Ikhwanul Muslimin), Syeikh Hasan Al Banna mencoba mengembalikan islam pada makna sesungguhnya yang mencakup seluruh aspek kehidupan tanpa menolak sebagian dan menerima sebagian yang lain. “Sedikit sekali anda jumpai orang yang berbicara kepada anda tentang politik dan islam, kecuali anda akan melihat orang tersebut akan memisahkan dengan pemisah yang sejauh jauhnya antara politik dan islam. Ia letakkan setiap makna dari keduanya di sisi yang berbeda” (Hasan Al Banna).
            Disinilah letak perbedaan terbesar antara kaum muslimin dan kaum sekuler dalam memandang agama dan politik. Dan perbedaan ini akan terus berlangsung hingga akhir zaman nanti. Mereka berusaha untuk mengaburkan hubungan antara agama dan politik melalui pemahaman yang keliru. Islam adalah sesuatu dan masalah ekonomi negara adalah sesuatu yang lain. Islam adalah sesuatu dan masalah energi serta sumber daya alam adalah sesuatu yang lain. Islam adalah sesuatu dan masalah disintegrasi bangsa dan teritorial adalah sesuatu yang lain. Islam adalah sesuatu dan masalah-masalah sosial adalah sesuatu yang lain. Islam adalah sesuatu dan masalah politik bukan bagian darinya. Demikianlah pemahaman sempit sebagian dari mereka ketika berbicara agama dan politik.
            Sebuah pertanyan besar yang mungkin perlu dijawab oleh mereka yang menolak keterlibatan agama dalam politik terutama kaum islam sekuler. Jika islam bukanlah politik, bukan pula ekonomi, bukan sosial dan kebudayaan, bukan energi dan sumber daya alam, bukan juga militer dan peradaban, lantas apa itu islam? apakah ia hanya rakaat-rakaat kosong tanpa makna? apakah ia hanya lafadz-lafadz di bibir tanpa bisa dirasakan manfaatnya dalam kehidupan? apakah kitab suci al-quran yang diturunkan hanya berisi penjelasan ibadah ritual saja? 
            Politik adalah bagian dari keislaman seorang muslim, atau dengan kata lain belum sempurna keislaman seorang muslim jika belum menerima politik adalah bagian dari islam. Konstitusional negara juga telah mengakui islam sebagai agama resmi melalui undang-undang negara. Sehingga menjadi tidak relevan perdebatan keterlibatan agama dalam politik dan negara.      
             Terdapat perbedaan antara politik dan partai politik sebagai institusi. Keduanya mungkin saja berada dalam satu hal namun juga dapat berbeda tanpa ikatan satu sama lainnya. Seseorang dapat saja disebut politikus namun tidak terlibat dalam partai politik. Mungkin pula ada yang terlibat secara aktif dalam institusi partai politik namun tidak memahami politik. Atau mungkin ada yang menyatukan kedua hal tersebut dalam dirinya, sebagi politikus dan sekaligus terlibat secara aktif dalam partai politik. Sehingga pemahaman agama dan politik tidaklah sempit dalam makna dan koridor partai politik saja.
            Kehadiran islam dengan makna sebenarnya menjadikan politik dan institusi partai politik menjadi sumber kebaikan. Karena sesungguhnya dalam islam ada politik namun politik yang ada padanya terletak pada nilai-nilai yang membawa kebaikan dunia dan akhirat. Agama dan negara, sebuah relevansi sejarah yang semakin mendapat tempatnya. 

Faisal Ibn Saby
Banda Aceh, 7 Januari 2017



canindonesia.com -

Kemenangan tentara rezim Suriah atas Aleppo Timur disambut meriah oleh Presiden Iran, Hasan Rowhani dan sekutunya Presiden Rusia Vladimir Putin. Mereka nyatakan akan lanjutkan kerjasama militer,  sebagaimana disebut media Iran pada Ahad (25/12/2016).


"Kemenangan ini mengirimkan pesan bahwa teroris tidak berhasil merebut simpati. Kita harus menghentikan teroris menggunakan gencatan senjata untuk membangun kembali kekuatan mereka dan menciptakan basis baru di daerah lain di Suriah, "kata Rowhani dalam pernyatannya kepada Putin pada Sabtu malam seperti disampaikan  Al Arabiya, Ahad (25/12/2016).


Al Arabiya juga mengungkap, bahwa Putin menyambut kekalahan pasukan pemberontak di kota kedua terbesar Suriah itu dan mengatakan kerjasama antara Teheran dan Moskow akan terus dilakukan sampai batas waktu tidak terbatas. Iran dan Rusia menjadi sekutu kuat  bagi Bashar Assad dalam menghadapi pemberontak di Suriah. kedua negara ini awalnya membantah terlibat jauh dalam perang yang telah menewaskan puluhan ribu orang itu. Rusia terlibat aktif membela sekutunya sejak September 2015. Sedang Iran diduga telah terlibat jauh sejak Bashar Assad berkuasa dan belum terjadi pemberontakan di negeri itu namun telah menghabiskan bertahun lamanya untuk membantah berita itu. . 

Sebelumnya dikhabarkan, pemberontak dari kalangan sunny berhasil dipukul mundur dari Aleppo Timur dengan pembumihangusan wilayah itu melalui serangan udara Rusia. Namun berdasarkan laporan media Muslim, tentara syiah Iran dan Rusia bukan hanya mengincar pemberontak, namun menculik warga yang berusaha keluar dari wilayah itu. Sebanyak 800 orang laki-laki telah dipaksa keluar oleh kelompok Syiah dari barisan pengungsi dan hingga kini belum diketahui nasibnya. 

Tentara Suriah pekan ini merebut kembali kendali timur Aleppo, yang telah diambil alih oleh kelompok pemberontak sejak pertengahan 2012. Pengambilalihan juga dilalui dengan serangan dahsyat selama sebulan yang telah menyebabkan puluhan ribu orang mengungsi meninggalkan rumahnya masing-masing. 



canindonesia.com -
Pilkada sejatinya adalah pertarungan ide dan gagasan. Dimulai dengan interaksi positif kandidat dengan masyarakat selama lima tahun sebelum kontestasi dimulai. Namun dalam sistem demokrasi, petarungan itu tidak an sich sekedar ide dan gagasan, melainkan idiologi dalam perpektif masa depan dan, sedikit jual beli. Itulah yang terjadi di dunia, wabil khusus di Aceh sebagai miniatur demokrasi  keberpihakan berdasarkan idiologi. Toolnya adalah ide dan gagasan.
Banda aceh sebagai peserta pilkada pada awal tahun 2017 yang akan datang juga telah melalui tahapan-tahapan pilkada yang cukup menarik. Mulai dari tawaran calon kepala daerah kepada publik untuk dilirik  oleh partai maupun perorangan, juga sambutan positif masyarakat dihiasi intrik yang lazim dalam sebuah demokrasi.
Namun semakin mendekati akhir tahapan pilkada kota Banda Aceh, kontestasi memasuki masa menentukan : calon walikota yang pada awalnya ramai, kini mengekerucut head to head antara Illiza Saadudin Djamal (incumbent) dengan Aminullah Usman. Head to head menjadikan konstetasi semakin tajam dan penting. Masyarakat mendapatkan perbandingan diantara dua calon hingga keniscayaan membuat friksi secara sosial.
Yang ditakutkan dalam sebuah pesta demokrasi adalah black campaign, dan itu yang terjadi. Illiza dan Aminullah Usman terpapar soal serius yang menguras energi dan jauh dari substansi demokrasi.
Adalah Illiza yang menjadi terdakwa atas serangan isue kepemimpinan  perempuan. Isue ini  dimainkan melalui ekspose sosial media dengan cara yang tidak dewasa. Pasalnya, di grass road, terjadi pembentukan opini menyesatkan hingga manipulasi pernyataan narasumber dan tentu dapat berakibat hukum serius kepada pidana umum maupun pidana pemilu/pilkada. Meskipun di kalangan ulama masa lalu terjadi beda pendapat soal kepemimpinan perempuan berdasarkan fiqh, namun isue ini sepertinya efektif menimbulkan sikap emosional masyarakat. Syukurlah, ruang perbedaan pendapat ternyata dilewati begitu indah oleh ulama Aceh masa itu.
Begitupun terhadap Aminullah Usman yang menjadi tertuduh atas jabatan dirinya pernah memimpin perbankan konvensional bernama Bank Aceh untuk sekian lama. Pada masa Aminullah memimpin Bank plat merah ini, Bank Aceh banyak mengalami kemajuan pesat sekaligus menjadi titik lemah Aminullah yang dianggap sukses membangun sistem yang sadar atau tidak sadar bermuatan riba di Aceh yang saat itu belum menjadi sorotan publik. Seiring kemajuan dan intepretasi publik terhadap kesadaran dalam kehidupan beragama, maka Riba bukan hanya dilarang, namun diperangi Allah dan digugat publik sepuluh tahun terakhir. Gerakan anti riba menjadi trend lima tahun terakhir yang mempengaruhi kebijakan Bank Aceh untuk merubah sistemnya dari konvensional menjadi sistem syariah melalui proses konversi yang begitu panjang, rumit dan sikap berat hati sebagian pemerintah daerah sebagai pemilik saham. Aminullah terjebak sebagai Ikon penting Bank Konvensional ini.
Dua isue ini akhirnya menjauhkan kita kepada substansi persoalan di ibu kota Propinsi Aceh. Di sini ada kewajiban masyarakat melalui media untuk menjaga soliditas hingga pasca pilkada. Karena perbedaan pilihan sejatinya tidak mengurangi kewajiban menjaga ibukota propinsi ini sebagai ikon serambi Mekah. Karena bagaimanpun isue Islam dan sekulerisme akan terus berbenturan, terlebih untuk penguasan pengaruh di daerah yang tidak terlepas dari politik nasional.
Penyelesaian persoalan black campign ini tentu tak segampang kita membalikkan telapak tangan. Kepercayaan publik akan muncul bukan dari sikap saling mencari kesalahan, melainkan pelayanan publik dalam orientasi pembangunan keummatan. Illiza sudah menawarkan apa dan Aminullah sudah melakukan apa.  Publik tak perlu mengerutkan kening untuk menilainya. Memilih salah satu berdasarkan fiqh aulawiyat, memilih satu yang lebih Menjamin Keselamatan daripada kerusakan. 

Maka, tak ada pilihan lain, kedua calon kepala daerah yang akan bertarung dalam pesta demokrasi ini harus mampu menunjukkan sikap kenegarawanannya untuk merajut mimpi yang sebentar lagi terbentang untuk diselesaikan. Antara pemimpin perempuan dan pemimpin riba, kita perlu dewasa.   (editorial CAN Indonesia)


canindonesia.com - (Banda Aceh)

Program Hutan Wakaf yang digagas para voluntir di Aceh segera akan terwujud. Sebanyak satu hektar lahan wakaf pekan ini akan dibebaskan sebagai  pilot project inisatif konservasi berbasis wakaf yang disebut hutan wakaf. Demikian disampaikan salah seorang voluntir hutan wakaf, Akmal Senja, di jumpai di ruang kerjanya di Banda Aceh, Sabtu (24/12/2016). 

"Konsepnya, lahan tidak produktif akan dikonversi menjadi lahan produktif berupa hutan yang berfungsi ekologis. Nantinya hutan ini akan diwakafkan kembali kepada masyarakat setempat untuk dapat dimanfaatkan" jelas Akmal.

"Hutan Wakaf bukan berarti tidak boleh ditebang. Ada sebagian pohon yang bisa ditebang dan dimanfaatkan sebagai papan keranda (mayat) bagi masyarakat setempat. Juga ada buah-buahan dan beberapa jenis tanaman obat yang bisa dimanfaatkan seluas-luasnya bagi masyarakat sekitar. Disamping pohon inti seperti Ficus (bak ara) sebagai infiltrasi air, pakan burung dan primata yang harus tetap dijaga kelestariannya  dan tidak boleh ditebang".

Akmal menjelaskan, inisiatif  hutan wakaf sudah digagas sejak tahun 2012 dengan melibatkan beberapa voluntir dari Aceh yang didukung voluntir nasional bahkan luar negeri.

"Kami menghimpun bantuan dana dari para donatur secara personal dengan mewakafkan sebagian dana mereka untuk pembebasan lahan. Untuk tahap pertama, lahan yang akan dibebaskan seluas satu hektar berlokasi di Jantho Aceh Besar."

Akmal menegaskan, inisiatif hutan wakaf ini akan menjadi milik bersama masyarakat, voluntir, dan para pecinta lingkungan sebagai upaya  membangun hutan berkelanjutan.

Akmal mengutip sebuah hadits Nabi, "Seandainya besok adalah hari kiamat dan di tangan salah seorang dari kalian ada benih tumbuhan, maka hendaklah dia menanamnya. Barang siapa yang menanam pohon dan menabur benih, kemudian hasilnya dimakan manusia, burung, atau binatang lain, maka itu merupakan sedekah baginya". (nh) 



Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget