Articles by "Halaqah"


canindonesia.com - Sebuah Experiment dilakukan di hari jilbab internasional.  Inilah reaksi non muslim saat mencoba memakai jilbab untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, hasilnya sungguh luar biasa.  

Beragam komentar dan ungkapan perasaan mereka sampaikan. Umumnya mereka mengatakan ini adalah hal baru bagi mereka, dan mereka mengatakan bahwa jilbab bukan sebuah penindasan. Sosial experiment ini dilakukan di Swiss dengan melibatkan beberapa target perempuan muda. 

inilah videonya :




canindonesia.comDalam zaman modern saat ini rasanya aneh jika seorang perempuan melamar atau meminta melamar seorang pria sebagai suaminya. Bahkan untuk beberapa kasus perempuan seperti ini dianggap lancang dan tidak tau malu. Namun ternyata dalam Islam, wanita diperbolehkan untuk melamar seorang laki-laki. Namun dengan satu syarat, jika diyakini lelaki itu adalah seorang yang shalih dan mampu menjaga kehormatannya.

sebuah dalil, dari Tsabit al-Bunani bahwa Anas bin Malik pernah bercerita, Ada seorang wanita menghadap Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menawarkan dirinya untuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Dia mengatakan, Ya Rasulullah, apakah anda ingin menikahiku? mendengar ini, putri Anas bin Malik langsung berkomentar, “Betapa dia tidak tahu malu. sungguh memalukan, sungguh memalukan. Anas membalas komentarnya, “Dia lebih baik dari pada kamu, dia ingin dinikahi Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan menawarkan dirinya untuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam.(HR. Bukhari 5120)
Peristiwa itu juga yang pernah dilakukan oleh Khadijah radhiyallahu anha, beliau melamar Muhammad saat sebelum menjadi nabi melalui perantara seorang temannya, Nafisah binti Maniyah. Kemudian disetujui semua paman-pamannya dan juga paman Khadijah. Ketika akad dihadiri Bani Hasyim dan pembesar Bani Mudhar, dan ini terjadi dua bulan sepulang Nabi shallallahu alaihi wa sallam dari Syam berdagang barangnya Khadijah. (ar-Rahiq al-Makhtum, hlm. 51).
Khadijah meyakini bahwa Muhammad adalah seorang yang baik dan terpercaya.
Jika seorang khadijah saja melamar orang terbaik di dunia, maka tidak ada yang salah jika ada diantara anda, kaum hawa yang memilih seorang lelaki shalih untuk menikah dengan anda. Menghubungkan anda dengan lelaki itu dalam ikatan yang sah.
Lebih jauh disebutkan dalam kitab Fathul Bari, wanita yang minta dinikahi Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak haya satu. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani menyebutkan beberapa riwayat yang menceritakan para wanita lainnya, yang menawarkan dirinya untuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam, diantaranya Khaulah binti Hakim, Ummu Syuraik, Fatimah bin Syuraih, Laila binti Hatim, Zaenab binti Khuzaemah, dan Maemunah binti Al-Harits. (Fathul Majid, 8/525).
Ada dua cara anda melamar seorang lelaki shalih, pertama dengan cara melamar langsung kepada yang bersangkutan, dan yang kedua dengan meminta bantuan penghubung yang amanah (seulangke, Aceh) untuk menjadi perantara anda berdua.
Jika lamaran anda ditolak, maka Rasulullahpun pernah menolak lamaran seorang perempuan dengan suatu alasan yang baik dan cara-cara yang baik. Lelaki shalih akan menolak dengan cara yang baik pula. Jika lelaki itu menolak dengan cara tidak baik, maka anda beruntung tidak berjodoh dengan dirinya.
Allah tetap memuliakan seseorang yang menjaga kemuliaannya. Anda Keren







canindonesia.com - (kisah) Amin rais, penderita kanker tulang stadium akhir yang wafat pada 6 Juni lalu di RSUZA meninggalkan kisah yang mengharukan bagi pembaca. Ia wafat setelah berjuang lama melawan penyakitnya. Dibalik derita itu, ia juga merindukan kasih sayang ibunya yang belasan tahun tidak mendampinginya, bahkan menolak mendampingi saat ia sakit.

Sebagaimana dikisahkan oleh Ratna Eliza, seorang voluntir bagi penderita kanker, C Four Banda Aceh.  Amir Rais ternyata meninggalkan beberapa surat dan curahan hati terkait kondisi dan kesedihannya. Ia menulis dengan bahasa sastra dan dipenuhi harapan-harapan untuk kesembuhannya. Saat ia menulis curhatan ini ia terbaring bersama teman-teman penderita kanker lainnya di rumah singgah itu. Kondisi amin rais yang baru saja diamputasi kakinya membuat ia semakin sepi.

Berikut adalah sebagian surat-suratnya yang ia buat ada tanggal 17-12-2016 beberapa waktu setelah dirawat dan tinggal di rumah singgah C Four Banda Aceh.

Oh tuhan q berikanlah q kekuatan untuk melawan penyakit q ini, supaya kelak q kan meraih bintang yang telah hilang dari mata q, ya Allah semoga doa2 q bisa menjadi obat pada diri q yang sedang kau beri cobaan ini.

Diantara surga dan nerakamu, kini aku hanya menunggu. Diantara penuh kasih sayang mu dan oenuh kekuasaanmu
Diantar banyaknya bintang-bintang yang lengkap menghiasa langit yang biru
Dan bulan yang terang menyinari bumi betapa indahnya dipandang mata yang membawa inspirasi yang indah,  tetapi antara itu ada juga kesedihan yang aku rasakan namun mungkin ini jalan yang telah engkau berikan.” tulisnya.

Ia melanjutkan,
Disaat aku berbaring di tempat tidur disaat itu aku selalu menahan sakitnya penyakitku. Terkadang q terbangun dari nyenyknya tidurku yang sedang bermimpi yang indah. Andaikan malam yang tanpa bintang-bintang, andaikan siang tanpa matahari badan q ini hanya bisa menrima penyakit yang telah ada . oh badan q kapankah sehatmu, seandainya dirimu tak sakit tak tau kelak apa yang terjadi padamu

Kondisi Amin Rais semakin memburuk, kanker yang menyerang kakinya telah menyebar ke kepala, mata dan parunya, lalu ia menulis lagi :

Diantara penyakit yang telah turun pada q mungkin ini adalah rahmat bagi q yang telah engkau berikan kepada q.
Dan diantara sehat q mungkin q lalai dan mungkin diantara penyakitku ini q menyadri bahwa setiap manusia pastkan ada skitnya, ada yang parah adapula yang tidak parah. Malam-malam yang penuh bintang kini lenyap di mata q. dulunya oenuh bintang-bintang yang indah bulan yang cntik di opadang mata kini telah hilang satu persatu
Amin Rais buta, meski begitu, kerinduan kepada ibunya tak pernah mampu terobati. Saat wafat pada tanggal 6 Juni lalu, mata butanya itu masih mengalirkan air bening kerinduan dan kesedihan.


canindonesia.com - (kisah) Setelah belasan tahun menderita sakit , Amin Rais, pemuda penderita kanker stadium akhir ini menghembuskan nafas terakhinya di RSUZA.

Ratna Eliza, Voluntir untuk C Four, sebuah lembaga kemanusiaan bagi penderita kanker di Aceh, menceritakan kisahnya kepada CAN Indonesia.

Amin yang awalnya seorang bayi mungil yang lucu menjalani hidup sangat memprihatinkan. Kedua orang tuanya tidak lagi bisa hidup bersama oleh alasan yang sangat memiriskan hati: kemiskinan.  

Amin rais dititipkan di rumah kakeknya di tanah Gayo. Sejak saat itu ia tidak pernah bertemu lagi dengan ibunya. Ayahnya juga jarang berkunjung.

Sejak kecil kakinya mulai ada kelainan, biru dan lembam. Sang kakek membawanya ke ‘orang pintar’, namun tidak kunjung sembuh. Hingga akhirnya saat usianya mencapai 15 tahun ia divonis terkena kanker tulang. Kakinya diamputasi agar penyakitnya tidak menyebar kemana-mana.
Sejak itu hari-harinya mulai  sepi. Ia tidak lagi ceria sebagaimana anak-anak seusianya. Hari-hari dilewatinya dengan kerinduan yang mendalam.

Pada tanggal 20 Oktober 2016, Amin diantar oleh kakeknya, ditampung oleh lembaga C Four dan diinapkan di rumah singgah milik lembaga itu untuk perawatan lebih intensif di Banda Aceh.

Saat amin tiba di rumah singgah, kami latih ia berjalan dengan kruk. Kami minta ke Kick Andy sebuah kaki palsu. Kami lakukan terapi di air dan berenang dengan fun therapy. Ternyata saat dikirim ke medan untuk lakukan radioterapi, ternyata sudah tidak berpengaruh. Dokter sudah menyerah
Sakit amin semakin parah, kankernya mulai menyebar ke mata, paru dan kepala.

Selama tinggal di rumah singgah bersama C Four, Amin banyak bercerita, dan juga menulis beberapa curahan hati dan surat-surat pribadinya yang ia simpan sendiri.

“Saya menemukan surat-surat itu. Amin menulis dengan bahasa satra yang baik. Ia menyimpan catatan itu dengan rapi” kata Ratna menerawang.

Amin berjanji bahwa jika ia sembuh ia akan pulang, bersekolah dan membahagiakan kakeknya.
Ayah dan ibu Amin sudah berpisah belasan tahun lalu. 
Air matanya sering keluar merindukan ibunya. Ia sering kali mengungkapkan kerinduannya itu kepada Ratna dan teman-temannya.

Amin mengalami drop karena masalah psikis. Dia memikirkan tidak ada yang sayang kepada dirinya. Pernah saat kami merayakan ulang tahun temannya, dia menangis sambil merangkak ke kamar. Saya bertanya kenapa, ia bilang bahwa ia rindu ayah dan ibunya

Sampai suatu saat saya mendampingi Amin ke Medan untuk proses radioterapi, saya mengusahakan agar Amin bisa bertemu ibunya. Saya memohon agar ibunya mau menjumpai Amin. Ibunyapun datang. Sayangnya hanya dikunjungi dua kali dalam masa-masa kritis itu. Ibunya berulang kali menolak menjumpai Amin.
padahal Amin masih belum habis menumpahkan kerinduannya  kepada sang ibu yang melahirkannya.

Hingga akhirnya, Amin Rais wafat pada tanggal 6 Juni 2017 dalam suasana yang mengharukan. Air matanya masih mengalir meski sudah menghembuskan nafas terakhir satu jam sebelumnya. Amin wafat didampingi oleh pamannya, Ratna dan teman-teman sesama penderita kanker.

Tubuhnya terbujur di ruang rawat Jeumpa 4 RSUZA Banda Aceh. Selepas magrib yang hening itu, jenazah Amin langsung dibawa dengan ambulan ke kampung halamannya di tanah Gayo.


canindonesia.com - (opini) oleh : Sulaiman Tripa .
Kita sering menemukan anomali dalam hidup. Orang melakukan hal-hal yang tidak boleh, dengan mengelabui pada hal-hal yang boleh. Berbuat jahat dengan terlebih dahulu menampilkan kesan baik. Atau melakukan sesuatu yang sebenarnya batil, melalui jalur yang tampaknya lurus.

Kenyataan ini bisa muncul dalam berbagai level. Tidak hanya di tingkat atas. Jika ingin diurutkan masing-masing dalam kelas sosial yang bernama strata, maka orang-orang yang melakukan hal-hal yang tidak boleh itu, ada dalam berbagai level. Baik level atas, maupun level bawah.

Tidak ada jaminan orang yang sudah memiliki dua mobil (mewah), dengan beberapa rumah (megah), lalu tidak mencoba merampas peng bicah (uang receh) secara tidak berhak. Dan penggambaran ini tidak lantas, bahwa orang yang pada level bawah bisa melakukan hal yang demikian.

Rasuah menjadi satu wajah pada level atas. Bagaimana pelaku dan perilaku mencoleng itu berubah dan beradaptasi melalui berbagai wajah. Sebaliknya, corak perilaku yang lain, tampak seperti penggunaan berbagai bahan kimia dalam makanan yang akan dijaja kepada penjual. Rasuah mendapat untung besar, penjaja makanan yang berbahan kimia mendapat untung secuil. Keduanya sama-sama berimplikasi serius bagi banyak orang.

Itulah yang terjadi pada bulan puasa yang kita lewati. Sejumlah kasus korupsi ditemukan dengan berbagai modus dan coraknya. Lalu temuan penggunaan boraks dan formalin dalam makanan yang sepertinya juga semakin menggelisahkan. Lokasi temuan juga berubah. Dari yang hanya terkontrol di pusat, lalu bergeser ke pinggir. Dari perilaku yang bernilai miliaran, hingga pada angka beberapa juta saja.

Seyogianya setelah sebulan kita melakukan puasa, akan ada perubahan besar sesudahnya. Akan semakin berpengaruh pada keimanan. Sudah seharusnya puasa membuat kita semua semakin mempertebal keimanan dalam hal meluruskan segala niat. Puasa seyogianya menempatkan orang untuk tidak semakin rakus. Kita yang memiliki jabatan, berpeluang rakus terhadap berbagai fasilitas. Sedangkan mereka yang tidak memiliki jabatan, rakus dengan caranya sendiri: ingin untung banyak dari modal yang tidak seberapa.

Corak rakus ini, pada hakikatnya seperti orang tidak percaya akan ketentuan Allah yang sudah menentukan rezeki kita masing-masing. Tidak perlu menipu untuk mendapatkan rezeki bersih. Dengan logika bahwa semua kita sudah memiliki tumpuk masing-masing, maka seharusnya tidak ada yang perlu ditakutkan. Orang-orang yang tidak rakus, memungkinkan tidak menerima apapun selain apa yang menjadi miliknya saja. Bagi yang rakus dan ingin untung besar, bisa jadi karena takut tumpuknya akan hilang. Sedangkan kita yang punya jabatan, memiliki corak lain. Seharusnya tidak perlu meminta, mengiba, memohon, atau bahkan mengancam agar orang lain memberikan fasilitas untuk diri kita. Berbagai fasilitas itu, pada dasarnya sebagai kompensasi atas apa yang dilakukan oleh orang-orang yang sudah seharusnya melayani kepentingan orang banyak.

Ketika ada orang-orang yang sudah digaji secara layak, lalu ditambah pada saat tertentu dengan tambahan gaji ke-13 dan tunjangan hari raya ketika mendekati perayaan hari fitri, namun masih terus juga meminta atau menerima sesuatu dari orang yang dilayani, maka orang itu termasuk dalam kategori rakus itu. Sesungguhnya melebihi dari rakus dan tamak. Orang-orang semacam itu justru sudah menjadikan posisinya untuk mendapatkan sesuatu secara tidak sah. Tidak peduli kompensasi itu dinamakan dengan bahasa yang halus semisal administrasi seikhlasnya, atau semacamnya.

Ketika ada orang yang sudah menempa diri dengan berpuasa, namun belum bisa menahan diri dari godaan ketamakan, maka harus dilakukan refleksi terutama refleksi batin atas ibadah yang sudah dilakukannya. Harus muncul pertanyaan mengapa ketika melaksanakan ibadah yang penuh berkah, ternyata belum bisa memosisikan seseorang untuk mendapatkan keberkahan itu secara sempurna. Posisi ketamakan dan kerakusan akan berlipat ganda apabila untuk bertanya dan berfikir untuk itu saja tidak ada.

Mudah-mudahan Allah menjauhkan ketamakan dan kerakusan ini dari orang-orang yang sudah meningkatkan durasi ibadahnya di bulan muliauntuk kemudian menjadi titik penting bagi waktu selanjutnya untuk berubah.

Hal ini bukan hal main-main. Menerima sesuatu yang berasal dari jalur yang tidak lurus, sangat fatal akibatnya, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia manusia bisa berkelit dari berbagai pihak yang melakukan pengawasan, bisa berdalih dengan berbagai macam alibi. Akan tetapi tunggulah pengawasan suruhan Pencipta yang tidak bisa berkelit dan berdalih. Semuanya akan secara benderang dinampakkan di depan hidung kita, ketika mahkamah itu sudah sampai masanya.

*Sulaiman Tripa adalah Pengamat Sosial dan Hukum Dari Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala.

Ilustrasi

canindonesia.com - "Dan sesungguhnya Dia memberikan kekayaan dan kecukupan." (QS. An Najm: 48). Islam memandang harta sebagai salah satu atribut tersier (luxus/kemewahan) dalam kehidupan. Bukan merupakan kebutuhan primer (utama) dan bukan pula kebutuhan sekunder (pendukung).

Artinya secara ideal, seseorang yang sudah terpenuhi kebutuhan utama dan pendukungnya, merasa perlu menambah kekayaannya untuk tujuan yang seharusnya transendental (metafisik, ruhani dan ketuhanan), bukan ekonomikal apalagi lifestyle (gaya hidup).

Konsep keesaan Tuhan (monotheisme) dalam Islam juga kemudian meyakini Allah adalah sebagai pemilik segalanya. Allah yang kemudian memberikan segala kekayaan dan kecukupan bagi semua penduduk langit dan bumi. Jadi harta adalah milik Allah, termasuk manusia dengan segala harta dan kekayaannya.

Sebagai ornamen kehidupan, harta menduduki posisi yang krusial meski tidak fundamental. Dalam arti lain, harta adalah sesuatu yang memang diinginkan manusia. Ia adalah bagian dari fitrah manusia. Harta dipandang oleh manusia sebagai kecintaan kepada benda (materi) yang mempunyai bentuk fisik sebagai wujud kesenangan hidup di dunia. Sebagai manifestasi standar kehidupan yang layak dan mapan.

Sebagaimana firman Allah Swt dibawah ini.

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”  (QS. Ali Imran: 14)

Dalam ayat diatas dijelaskan secara gamblang mengenai bentuk materi harta apa saja yang umumnya diinginkan, dicintai dan ingin dimiliki oleh manusia. Diantaranya adalah wanita atau pasangan (termasuk suami), anak-anak, emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah-ladang. Dan manusia secara naluri menginginkan itu dengan banyak. Manusia tidak ingin sedikit, manusia ingin menambah kekayaan dan hartanya sebagi aktualisasi dari apa yang dinamakan keberhasilan hidup.

Kodrat manusia yang memang menginginkan harta yang banyak kemudian dinetralisir oleh kalimat penutup yang menegaskan bahwa harta yang ada ditangan orang-orang salihlah harta yang paling berkah. Maksudnya, sebaik-baik harta adalah harta yang dikelola oleh tangan-tangan manusia yang tidak menuhankan harta, tapi sebaliknya, mereka yang sadar sepenuhnya bahwa harta adalah titipan dan amanah semata. Dan kemudian akan dikembalikan kepada Sang Pemilik sesungguhnya dalam bentuk ganjaran terbaik di surga.

Artinya jika diibaratkan bahwa harta itu sebagai barang bawaan yang berpotensi menganggu perjalanan seorang muslim dari dunia ke akhirat, maka harta cukup dimanfaatkan seperlunya atau bahkan diinvestasikan di dunia yang akan dikembalikan oleh Allah di akhirat dengan keuntungan berlipat-lipat dan berbalas dengan hal terbaik yang bisa diharapakan oleh orang beriman, yakni surga sebagaimana yang sudah dijanjikan oleh Sang Maha Kaya dan Rasul-Nya.

"Katakanlah, Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik? Katakanlah, Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui". (QS. Al-A’raf: 32)

"Sebaik-sebaik harta ialah yang berada pada orang salih." (HR. Bukhari -Muslim).

Bagi seorang muslim, harta tidak seharusnya menjadi Tuhan baru. Bahkan sebaliknya menjadi alat mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa dengan memperbanyak ibadah sosial atau bahkan membantu diri untuk beribadah dalam arti ritual. Harta bukanlah segala-galanya, meski tanpa harta tidak segala ibadah bisa ditunaikan. Sebut saja ibadah haji misalkan. Atau yang paling sederhana zakat, infak dan sadaqah.

Justru jika ingin dimaknai lebih dalam, harta juga salah satu bentuk ujian. Ujian yang bilamana kita berhasil melewatinya, akan dinaikan level, kualitas dan diberikan ganjaran kebaikan dan hadiah yang setimpal atas jerih payahnya.

Harta tidak boleh menjadikan hati menjadi lupa akan kodrat seorang hamba. Karena harta bagi seorang muslim tidak diletakkan didalam hati, tapi didalam genggaman. Harta yang ditempatkan di hati akan membuat lalai dan lupa. Sebaliknya harta yang diposisikan dalam genggaman, bermakna bahwa harta bukanlah segalanya, maka harta justru menjadi latihan dan ladang amal kebaikan dan menjadi sesuatu variabel yang bisa dikontrol, bukan malah menjadi pengontrol manusia.

Masih ingat kisah Tsa’labah? Bagaimana kekayaan dan gembalanya yang bertambah malah menjadikannya lupa shalat berjamaah di masjid.

Selain itu, menurut Sri Kusnaeni (2014) dalam pandangan Islam, ada istilah kasab, yakni harta yang didapat seseorang yang sejalan dengan kerja dengan ikhtiarnya. Misalnya seorang pegawai setiap bulan akan mendapatkan gaji, ini menjadi kasab.

Ada pula istilah rezki, adalah harta yang diperoleh seseorang tidak terkait dengan pekerjaannya, dan tidak terduga-duga datangnya.

Dua konsep inilah yang bisa merangkum cara pandang Islam terhadap harta. Di satu sisi manusia perlu berupaya maksimal agar bisa mendapatkan harta yang halal. Tidak boleh berpangku tangan, karena itu akan berbanding lurus terhadap banyaknya harta yang diinginkan manusia untuk dimiliki. Di sisi lain, ada campur tangan Tuhan dalam konsep keseharian manusia muslim. Bahwa Allah adalah zat yang memberikan rezki yang datang dari arah yang tidak disangka, murni karena kasih sayang dan rahmat Allah SWT.

Mendapatkan atau mencari harta bagi seorang muslim adalah salah satu wujud kewajiban yang niscaya. Mencari harta secukupnya adalah bagian dari ikhtiar manusia menjalankan kewajiban sebagai hamba dimuka bumi. Meski harta, sebagaimana sudah disinggung diatas tadi adalah hal yang tidak fundamental, namun krusial dalam hal menjaga harkat dan martabat seorang muslim agar tidak menjadi parasit kehidupan.

Muslim yang baik tangannya selalu diatas dan tidak dibawah. Selalu berusaha memberi dan tidak meminta-minta. Semangat untuk berlomba-lomba agar menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain dengan memberikan segenap kelebihan yang ada padanya, termasuk harta. Di sisi lain, harta juga bisa menjadi sarana untuk bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Allah, beribadah kepada Allah dan berjihad di jalan-Nya.

Islam mendorong ummatnya untuk memiliki harta karena ia bernilai tinggi, dan terkadang nilainya nyaris menyamai kualitas berjihad dengan jiwa di jalan Allah. Secara umum jihad dengan harta ada di posisi kedua. Sebegitu pentingnya, posisi harta dalam menjaga marwah dan kewibawaan tegaknya Islam, sampai-sampai Allah mengabadikannya dalam Surat At-Taubah ayat 41.

Sementara itu dalam hal pengelolaan, Islam mengarahkan agar umatnya memanfaatkannya secara halal, bijaksana dan profesional. Secara halal maksudnya adalah harta yang dicari dari sumber yang halal, juga harus dimanfaatkan untuk kegiatan yang halal. Jika misalnya harta yang halal tapi dipergunakan untuk investasi haram, maka itu tidak sesuai dengan pedoman yang digariskan dalam agama, dan bisa membawa kerugian bagi banyak pihak. Sebaliknya jika sumber harta yang haram dimanfaatkan untuk kegiatan yang halal juga tidak akan berkah.

Jikapun sumber harta yang halal dan akan dimanfaatkan untuk kegiatan yang halal, itu juga harus mempertimbangkan skala prioritas dan maslahat. Ini maksudnya adalah memberi jangkauan manfaat tidak hanya bagi individu atau kelompok kecil, tapi juga dalam skala yang lebih besar, bagi kebutuhan masyarakat yang lebih banyak.

Yang tidak boleh dilupakan adalah harta dikelola secara amanah dan profesional. Amanah dalam konteks tidak memakan harta yang bukan menjadi haknya (korupsi). Harta yang bathil hasil korupsi akan membawa malapetaka yang luar biasa masifnya.

"Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui". (QS. Al-Baqarah: 188)

Sedangkan mengelola harta yang profesional adalah sebuah keharusan. Yang dimaksud dengan profesional adalah semua yang dikerjakan tuntas, sempurna dan selesai. Jika kita diamanahkan mengelola amanah atau titipan, maka semua itu harus dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemaslahatan manusia dan juga agama.

Harta yang dikelola harus memberi dampak ekonomi jangka panjang, perbaikan taraf hidup masyarakat yang berkebelanjutan dan tidak berorientasi kepada balas jasa dan keuntungan sesat dan sesaat. Harta yang dikelola secara profesional harapannya bisa menjadi solusi yang mumpuni untuk berbagai persoalan kemakmuran kolektif, dan tidak malah menjadi jalan kemasyhuran individu belaka. Dengan demikian harta yang kita miliki, akan berbuah sebagai kebaikan yang terus mengalir kepada kita yang dititipkan.

Penulis: Dr. Phil. Saiful Akmal
Penasehat Masjid dan Pusat Budaya Indonesia-Frankfurt

(nh/rl) 

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget